Sabtu, 23 Maret 2013

ADAB BERDOA


Doa adalah suatu bentuk pengakuan hamba akan kelemahannya, kekurangannya, dan ketidak sempurnaannya sehingga membutuhkan pertolongan kepada Dzat Yang Maha Sempurna yaitu Allah Subhanahu wata'ala. Dalam kitab Ihya 'Ulumiddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menjelaskan adab berdoa sebagai berikut :
Info
Pertama, hendaklah mencari waktu-waktu yang mulia, seperti hari Arafah, Bulan Ramadhan, hari Jum’at, akhir-akhir malam menjelang subuh dari waktu-waktu malam.

Allah SWT berfirman : “wa bil ashaari hum yastaghfiruuna” yang artinya, “Dan di akhir-akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampun (kepada Allah) QS. Adz-Dzariyat : 18
Rasulullah SAW bersabda , “(Rahmat) Allah SWT turun pada tiap-tiap malam ke langit dunia pada saat waktu malam tersisa sepertiga akhir, lalu Allah SWT berfirman, “Barangsiapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan baginya. Barangsiapa meminta kepada-Ku, niscaya aku penuhi permintaannya. Dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku berikan ampun kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, hendaklah dilakukan dalam keadaan-keadaan dan situasi yang mulia.

Abu Hurairah RA, berkata, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka pada saat terjadinya peperangan di jalan Allah, pada saat turun hujan, dan pada saat ditunaikannya shalat-shalat yang difardhukan, maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa pada waktu-waktu tersebut.”
Imam Mujahid berkata,”Sesungguhnya shalat itu ditentukan pada sebaik-baik waktu, maka hendaklah kalian memperbanyak doa sesudah shalat”
Rasulullah SAW bersabda, “Doa pada saat antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak” (HR. At-Turmudzi)
Beliau juga bersabda,”Orang yang berpuasa tidak akan tertolak doanya”
Pada hakikatnya, waktu-waktu yang paling mulia kembali pada keadaan-keadaan yang paling mulia. Waktu akhir-akhir malam merupakan waktu jernihnya hati, ikhlas, kosongnya hati dari berbagai kebimbangan dan kekacauan. Hari Arafah dan hari Jum’at adalah hari berhimpunnya kesungguhan dan harapan serta bersatunya hati untuk mengharapkan curahan rahmat Allah SWT, selain adanya berbagai rahasia yang tidak diketahui oleh manusia.

Ketiga, menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan hingga seukuran terlihat putih kedua ketiak.

Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan Rasulullah SAW datang ke Arafah, menghadap kiblat dan terus berdoa hingga matahari terbenam (HR. Muslim)
Salman RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Pemurah, merasa malu kepada hamba-hamba-Nya bila mereka mengangkat tangan mereka (memanjatkan doa) kepada-Nya lalu Dia menolaknya dalam keadaan hampa (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Al-Hakim)
Abu Darda RA berkata, “Angkatlah tangan-tangan ini sebelum dibelenggu dengan belenggu-belenggu dari api neraka”.
Selain itu hendaklah mengusap wajah dengan kedua tangan di akhir doa. Umar RA berkata, “Rasulullah SAW, bila membentangkan kedua tangannya dalam berdoa, tidaklah mengembalikannya sampai mengusap wajahnya dengan keduanya”.
Dan janganlah mengarahkan pandangan ke atas langit pada saat berdoa. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah orang-orang berhenti dari mengarahkan pandangan mereka ke atas langit pada saat berdoa, atau pandangan mereka akan tersambar.” (HR. Ath-Thabarani)

Keempat, melirihkan suara antara pelan dan keras

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Berdoalah kepada tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS.Al-A’raf : 55

Kelima, tidak membuat-buat sajak dalam berdoa karena orang yang berdoa sepatutnya berada dalam keadaan yang penuh kerendahan diri.

Itulah sebabnya, membuat kata-kata tidaklah patut dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdoa”.

Keenam, dengan penuh kerendahan diri, khusyu, penuh harap dan rasa takut serta cemas.

Rasulullah SAW bersabda, “Bila Allah mencintai hamba-Nya, pasti Allah mengujinya hingga Allah mendengarkan kerendahan dirinya (dalam berdoa).”
Dalam surat Al-Anbiya ayat 90, Allah SWT berfirman, yang artinya, “…..Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan kebajika dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.”

Ketujuh, bersungguh-sungguh dalam berdoa, meyakini sepenuhnya dikabulkannya doa yang dimohonkan, dan benar dalam pengharapan dalam doanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian bila berdoa berkata “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau menghendaki, dan rahmatilah aku bila Engkau menghendaki” untuk menguatkan permohonannya, karena sesungguhnya tidak ada keterpaksaan bagi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda, “Bila salah seorang diantara kalian berdoa, besarkanlah pengharapannya, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang memberatkan Allah SWT.” (HR. Ibnu Hibban)
Sabda belia lagi, “Berdoalah kepada Allah dan kalian penuh keyakinan akan dikabulkannya. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mendengarkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Ath-Thurmudzi dan Al-Hakim)

Kedelapan, terus menerus dalam berdoa dan mengulang-ngulanginya serta tidak menganggap lambatnya dikabulkannya permohonan.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, bila berdoa Rasulullah SAW senantiasa mengulanginya tiga kali; dan bila meminta mengulangi permintaanya tiga kali (HR. Muslim)
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seseorang di antara kalian senantiasa didengar selama tidak tergesa-gesa di mana ia berkata ‘Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan’ karenanya bila kalian berdoa, bermohonlah banyak-banyak kepada Allah, karena sesungguhnya kalin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Kesembilan, memulai doa dengan dzikir, pujian kepada Allah SWT, dan shalawat kepada Rasulullah SAW, dan mengakhirinya dengan keduanya.

Salmah bin Al-Akwa’ RA berkata, “Aku tidak mendengar Rasulullah SAW memulai berdoa selain membukanya dengan ucapan “Maha Suci Tuhanku, Yang Maha Tinggi, Maha Agung lagi Maha Pemberi Karunia.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Abu Darda RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Bila kalian memohon suatu hajat kepada Allah, mulailah permohonan kalian dengan bershalawat kepada-ku.” (HR. Abu Thalib Al-Makki)

Kesepuluh, dengan memperhatikan adab-adab bathin yang merupakan inti dikabulkannya suatu doa dan diperkenankannya permohonan, yaitu taubat, mengembalikan hak-hak orang, dan menghadap Allah dengan sebenar-benar kesungguhan dan pengharapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar