Doa adalah suatu bentuk pengakuan hamba akan kelemahannya, kekurangannya, dan ketidak sempurnaannya sehingga membutuhkan pertolongan kepada Dzat Yang Maha Sempurna yaitu Allah Subhanahu wata'ala. Dalam kitab Ihya 'Ulumiddin, Hujjatul
Islam Imam Al-Ghazali menjelaskan adab berdoa sebagai berikut :
Pertama,
hendaklah
mencari waktu-waktu yang mulia, seperti hari Arafah, Bulan Ramadhan, hari
Jum’at, akhir-akhir malam menjelang subuh dari waktu-waktu malam.
Allah SWT berfirman : “wa
bil ashaari hum yastaghfiruuna” yang artinya, “Dan di akhir-akhir malam
(waktu sahur) mereka memohon ampun (kepada Allah) QS. Adz-Dzariyat : 18
Rasulullah SAW bersabda , “(Rahmat)
Allah SWT turun pada tiap-tiap malam ke langit dunia pada saat waktu malam
tersisa sepertiga akhir, lalu Allah SWT berfirman, “Barangsiapa berdoa
kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan baginya. Barangsiapa meminta kepada-Ku, niscaya
aku penuhi permintaannya. Dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku
berikan ampun kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua,
hendaklah
dilakukan dalam keadaan-keadaan dan situasi yang mulia.
Abu Hurairah
RA, berkata, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka pada saat terjadinya
peperangan di jalan Allah, pada saat turun hujan, dan pada saat ditunaikannya
shalat-shalat yang difardhukan, maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa pada
waktu-waktu tersebut.”
Imam Mujahid berkata,”Sesungguhnya
shalat itu ditentukan pada sebaik-baik waktu, maka hendaklah kalian
memperbanyak doa sesudah shalat”
Rasulullah SAW bersabda, “Doa pada saat
antara adzan dan iqamah tidak akan tertolak” (HR. At-Turmudzi)
Beliau juga bersabda,”Orang yang
berpuasa tidak akan tertolak doanya”
Pada hakikatnya, waktu-waktu yang paling
mulia kembali pada keadaan-keadaan yang paling mulia. Waktu akhir-akhir malam
merupakan waktu jernihnya hati, ikhlas, kosongnya hati dari berbagai
kebimbangan dan kekacauan. Hari Arafah dan hari Jum’at adalah hari berhimpunnya kesungguhan dan harapan serta bersatunya
hati untuk mengharapkan curahan rahmat Allah SWT, selain adanya berbagai
rahasia yang tidak diketahui oleh manusia.
Ketiga, menghadap
kiblat dan mengangkat kedua tangan hingga seukuran terlihat putih kedua ketiak.
Jabir bin Abdullah RA
meriwayatkan Rasulullah SAW datang ke Arafah, menghadap kiblat dan terus berdoa
hingga matahari terbenam (HR. Muslim)
Salman RA
meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup
lagi Maha Pemurah, merasa malu kepada hamba-hamba-Nya bila mereka mengangkat
tangan mereka (memanjatkan doa) kepada-Nya lalu Dia menolaknya dalam keadaan
hampa (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Al-Hakim)
Abu Darda RA berkata,
“Angkatlah tangan-tangan ini sebelum dibelenggu dengan belenggu-belenggu dari
api neraka”.
Selain itu hendaklah
mengusap wajah dengan kedua tangan di akhir doa. Umar RA berkata, “Rasulullah
SAW, bila membentangkan kedua tangannya dalam berdoa, tidaklah mengembalikannya
sampai mengusap wajahnya dengan keduanya”.
Dan janganlah
mengarahkan pandangan ke atas langit pada saat berdoa. Rasulullah SAW bersabda,
“Hendaklah orang-orang berhenti dari mengarahkan pandangan mereka ke atas
langit pada saat berdoa, atau pandangan mereka akan tersambar.” (HR.
Ath-Thabarani)
Keempat, melirihkan
suara antara pelan dan keras
Allah SWT berfirman, yang
artinya, “Berdoalah kepada tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara yang
lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
QS.Al-A’raf : 55
Kelima, tidak
membuat-buat sajak dalam berdoa karena orang yang berdoa sepatutnya berada
dalam keadaan yang penuh kerendahan diri.
Itulah sebabnya,
membuat kata-kata tidaklah patut dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada
suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdoa”.
Keenam, dengan penuh
kerendahan diri, khusyu, penuh harap dan rasa takut serta cemas.
Rasulullah SAW
bersabda, “Bila Allah mencintai hamba-Nya, pasti Allah mengujinya hingga Allah
mendengarkan kerendahan dirinya (dalam berdoa).”
Dalam surat Al-Anbiya
ayat 90, Allah SWT berfirman, yang artinya, “…..Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan kebajika dan
mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.”
Ketujuh,
bersungguh-sungguh dalam berdoa, meyakini sepenuhnya dikabulkannya doa yang
dimohonkan, dan benar dalam pengharapan dalam doanya.
Rasulullah SAW
bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian bila berdoa berkata “Ya
Allah, ampuni aku jika Engkau menghendaki, dan rahmatilah aku bila Engkau
menghendaki” untuk menguatkan permohonannya, karena sesungguhnya tidak ada
keterpaksaan bagi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda,
“Bila salah seorang diantara kalian berdoa, besarkanlah pengharapannya, karena
sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang memberatkan Allah SWT.” (HR. Ibnu
Hibban)
Sabda belia lagi,
“Berdoalah kepada Allah dan kalian penuh keyakinan akan dikabulkannya.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mendengarkan doa dari hati yang lalai.”
(HR. Ath-Thurmudzi dan Al-Hakim)
Kedelapan, terus
menerus dalam berdoa dan mengulang-ngulanginya serta tidak menganggap lambatnya
dikabulkannya permohonan.
Ibnu Mas’ud
meriwayatkan, bila berdoa Rasulullah SAW senantiasa mengulanginya tiga kali;
dan bila meminta mengulangi permintaanya tiga kali (HR. Muslim)
Rasulullah SAW
bersabda, “Doa seseorang di antara kalian senantiasa didengar selama tidak
tergesa-gesa di mana ia berkata ‘Aku
telah berdoa tetapi tidak dikabulkan’
karenanya bila kalian berdoa, bermohonlah banyak-banyak kepada Allah, karena
sesungguhnya kalin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Kesembilan, memulai
doa dengan dzikir, pujian kepada Allah SWT, dan shalawat kepada Rasulullah SAW,
dan mengakhirinya dengan keduanya.
Salmah bin Al-Akwa’
RA berkata, “Aku tidak mendengar Rasulullah SAW memulai berdoa selain
membukanya dengan ucapan “Maha Suci Tuhanku, Yang Maha Tinggi, Maha Agung lagi
Maha Pemberi Karunia.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Abu Darda RA
meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Bila kalian memohon suatu hajat kepada
Allah, mulailah permohonan kalian dengan bershalawat kepada-ku.” (HR. Abu
Thalib Al-Makki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar